Thursday, 14 August 2014
STILISTIKA
ANALISIS MAJAS PADA NASKAH RANDAI
“CINDUA MATO”
karya Wisran Hadi
oleh:
PADLI RAMADHAN
(1110742004)
(1110742004)
Jarek samato Bundo Kanduang
Hubungan nyao rangkai hati
Hulu jantuang limpo bakuruang (hlm. 3)
Majas Metafora
Sanang bana tuan ku kini
Basanda di banta gadang
Dia ateh kasua Manggalo (hlm. 5)
Majas Hiperbol
Malu tapupuih pado kaniang
Arang tacoreng pado muko (hlm. 5)
Majas Metafora
Bak sibisu barasian
Bak sikuduang dapek cincin (hlm. 5)
Majas Simile
Diguguah tabuah larangan
Bunyi sapantun patuih tungga
Samo jo guruah turun ujan
Raso kaluluah bumi Allah (hlm. 8)
Majas Simile
Inyo balari lari alang (hlm. 8)
Majas Epitet
Cimpai rayo dihambuih topan
Raso taganjak batu sandi (hlm. 8)
Majas Simile
Dikuncang garak gampo rayo
Raso mangirap panuturan
Tabang dihambuih halimbubu
Lapiak ilalang raso tabang
Bahambuih aie Sungai Bungo
Hanyuik buayan dari hulu (hlm. 9)
Majas Simile
Pado iduk bacamin bangkai
Baiak lah mati bakalang tanah (hlm. 9)
Majas Metafora
Gumarang balari-lari alang
Binuang mairiang di balakang
Labah jo naniang tabang babondoang
(hlm. 12)
Majas Epitet
Manolah junjuangan denai
Buah hati limpo bakuruang (hlm. 17)
Majas Metafora
Bak buni ganto si Gumarang (hlm. 23)
Majas Simile
Ado sabanta itu juo
Datang topan nan jo badai (hlm. 26)
Majas Zeugma
Aie gadang bukan kapalang
Tampak dek ambo Tuan Puti Bungsu (hlm. 26)
Majas Hiperbol
Pado inyo mati anyuik
Jadilah inyo ambo bao
Jaan manjadi sio-sio. (hlm. 26)
Majas Hiperbol
Kato denai tak basauik
Dakwa denai tak bajawab
Manolah kalian kasadonyo
Cubokan agak sajamang
Kok indak padang rantangkan manau
Nak den anjua ka balakang (hlm. 29)
Majas Ironi
Ambo nan datang dari Ranah Sikalawi
Dari Tanjuang Sungai Ngiang
Malu ambo ditariak urang (hlm. 31)
Majas Metafora
Itu urang nan punyo tunangan
Sajak itam samerah kuku (hlm. 32)
Majas Simile
Diiringan dek urang nan banyak
Saroman kaluang baba tabang (hlm. 35)
Majas Simile
Berdasarkan
hasil analisis majas terhadap naskah randai “CINDUA MATO” maka dapat disimpulkan bahwa majas yang
dominan adalah majas metafora.
Gaya Bahasa Dalam Novel MERANTAU KE DELI, Karya HAMKA
1. Pekerja-pekerja
berlarian dalam kantor setelah menerima gajian masing-masing,gaji yang
dihrapkan dari awal keujung bulan.yang menyebabkan setiap hari mereka memeras keringat. (Hlm:1).
Makna :yaitu bekerja
keras tampa mengenal lelah dalam menjalani kehidupan untuk bertahan hidup
Gaya bahasa : Hiperbol
2. Banyak
kuli-kuli tersadai atua tersangkut saja
disitu,tidak sanggup pulang lagi,tukang-tukan jual kain obral sangat lucunya,mulutnya
bersorak-sorak memanggil kuli-kuli perempuan. (hlm :1)
Makna :yaitu suatu kehidupan tempat
kediaman yang tidak bisa lagi berpindah ke tempat yang lainnya.
Gaya bahasa :Metafora
3. Meskipun
dagangannya terlalu kecil dan langgananya belum banyak,meskipun dagangannya
belum begitu laku,semuanya itu tidak menghalangi darah mudanya. (hlm:
6).
Makna :ialah orang yang mempunyai
semangat yang tangguh tampa mengenal lelah
Gaya bahasa :pleonasme
4. Yang
menarik hatinya,ke kebun ialah seorang kuli perempuan yang cantik,masih
muda.Dia istri “piaraan” dari mandur
besar.(hlm:6).
Makna :ialah seseorang
yang dilindungi.
Gaya bahasa :Simile
5. Memang
demikian anank muda yang baru kenal akan “bermain
mata”.mereka bermain mata,tak tahu bahwa perbuatan itu boleh menyulitkan
langkah bahwa itu kelak,yang akan mencelakakan dirinya sendiri.(hlm:7).
Makna :ialah orang yang
tidak tahan melihat seseorang yang lebih bagus atau yang lebih cantik,sehinga
dia akan menyulitka dirinya sendiri.
Gaya bahasa :sinisme
6. Tetapi
kau poniem,tersisih dn berbeza dari mereka,dalm dirimu rupanya terdapat darah budiman,meskipun dimana
engkau tinggal!.(hlm:14)
Makna :ialah orang
memiliki budi pekerti yang baik dan memiliki hati yang lembut.
Gaya bahasa : Pleonasme
7. Oh
Poniem,saya tak mau begitu,saya mau kawin,saya berjanji sepenuh bumi dan langit akan memeliharamu.(hlm:15)
Makna : ialah suatu janji yang besar
yang tak akan diingkari
Gaya bahasa :hiperbol
8. Saya
akan derita segala hinaan dan cacian,buat kau Poniem! biar kaum kerabat saya membusukkan saya,saya akan hidup dengan
engkau dan didalam hidup engkau iti.(hlm:15).
Makna : ialah seseorang
yang di buang dari kampungnya sendiri atau orang yang di kucilkan didalam
kampungnya
Gaya bahasa : hiperbol
9. Kalau
masih baru pindahlah dari satu tangan ketangan yang lain.Dan kalau sudah agak luntur,terpakssalah
masuk ke dalam hotel-hotel kepunyaan Tionghoa atau orang Jepung.(hlm :18).
Makna :ialah ketika
masih muda banyak orang yang suka dan apabila sudah agak tua sudah tidak ada
yang peduli.
Gaya bahasa :litotes
10. Apabila
“susu rimau” telah bermain diatas kepala,maka kuli-kuli itu tidak malu-malu
tampil ke muka,bersaut-sautan pantun dengan perempuan tandak itu dengan sahelai
selendang di tangannya.(hlm :21).
Makna : apabila orang telah
terpedaya dengan apa yang dianggap membuatanya senang maka dia akan melakukan
apa saja tampa malu-malu.
Gaya bahasa : Simile
11.
Itu
lah nasehat kawan yang lebih tua,
yang telah lama
makan garam kehidupan di tanah deli,nasehat
yang bukan menghinakan bakal istrinya,tetapi menunjukkan jalan yang akan
ditempuhnya. (hlm:24)
Makna :orang yang telah banyak merasakan
lika-liku kehidupan.
Gaya bahasa : asindenton
12.
Kalau kehidupan manis yang sudah-sudah,barulah manis darah muda hati mulai naik
belum lagi manis sesudah menempuh kepahitan ,yang selalu menyebabkan
sebuah rumah tangga laksana syurga
didalam hidup ini.(hlm:25)
Makna :ialah sesusah-susahnya hidup
kelak akan bahagia juga
Gaya bahasa :klimaks.
13. Oleh karena kemunduran perdagangannya,leman
kerap kali mengaluh,menarik nafas sebagai seorang terselip garam dalam
giginya.(hln:28).
Makna :orang yang hampir putus asa
menjalankan suatu pekerjaannya.
Gaya bahasa :simile
14.
Meskipun sedang makan
itu leman senyum-senyum juga,jelas kelihatan bahwa senyum
itudibuat-buatnya,bukan senyuman dari hati. Fikirannya tertubuk,terbayang
kemukanya,”kalau “hati dibawa gelak,tak
ubahnya seperti panas mengandung hujan”.
Makna :perasaan yang gelisah akan
terpancar di wajah kita walaupun di luar kelihatan senang.
Gaya bahasa :simile
15.
mari kita hidup berdua tumpahkan kepercayaanmu kepada ku,kepercayaan yang tiada berkulit dan berisi.(hlm:32).
Makna :kepercayaan yang tidah ada
batasanya dan tampa ada rasa enggan didalm hati.
Gaya
bahasa :
16. Sebab kehidupan itu
adalah laksana bahtera jua,si suami adalah nahkoda,si istri juragan,dengan berdualah selamat perjalanan itu.(hlm:33)
Makna :ialah apabial kehidupan itu
dijalani dengan rukun dan damai pasti akhirnya akan bahagia selamanya.
Gaya bahasa :simile
16. Karena
tak ubahnya anak dagang itu merupakan unggas pipit terbang berbondong.hinggap di pohon yang lebat
bunganya.kelak bunga itu telah gugur ke bumi,burung-burung itupun akan hinggaplah
kepohon-pohon yang lain pula,yang masih segar bunganya.(hlm:36)
Makna :ialah kehidupan itu tidak akan selalu indah pada masanya
akan ada berubahan Gaya bahasa
:simile
17.
Orang tidak
insaf,biasanya kalau bintang akan naik walaupun bagai mana tebalnya awan
tidaklah akan dapat menghalangi cahayanya.(hlm:40).
Makna :ialah orang yang berbuat jahat apapun yang
menghalanginya tidak akan dihiraukannya.
Gaya bahasa :simile.
18. Maka ditentukanlah hari
berangkat, habis gajian 30 (hal 45). (Sinekdoke)
19. Poniem sangat merasa beruntung dan bertambah
hormat kepada suaminya, sebab diketahuinya
bahwa suaminya itu tidaklah orang terbuang; melainkan rimbun rampak dalam kaumnya, ada
beradik berkakak, meski ibunya yang kandung sudah taka da lagi.
(hal 48) (Epitet)
20. Bagaimanapun kekayaan
yang didapat oleh Leman, tentu setinggi-tinggi
melambung akan kembali ketanah jua, kemana kekayaan yang sebanyak itu akan
dibawa (hal 49). (Metonimia)
21. Pendeknya, kalau engkau
suka Leman, bukan ayam yang akan mencari
padi, tetapi padilah yang mencari ayam (hal 58). (Personifikasi)
22. Perasaan-perasaan
demikianlah yang selalu berperang dalam
hatinya (hal 60). (Personofikasi)
23. Dia hanya menggantang
rintang menghadap asap, memandang
langit, memikir-mikirkan keberuntungan di zaman yang akan datang (hal 62). (Personfikasi)
24. Bukankah anak itu buah hati pengarang jantung, patri
berumah tangga? (hal 65). (Personfikasi)
25. Kalau tidak setuju
dengan bunyi suara hati kecil kita,
tentu juga tidak akan kita turutkan (hal 66). (Personfikasi)
26. Dahulu familimu hanya
Poniem sendiri saja, engkau jatuh dia
yang menyambut, engkau karam dia yang menyelami (hal 68). (Metonimia)
37. Kalau abang tak mau,
mereka katanya akan “berkerat-keratan
rotan” dengan abang, tidak akan mau mengakui bersaudara lagi (hal 78). (Metonimia)
38. Alangkah gelapnya hari
kemudianku, langit manakah tempatku berlindung, bumi mana tempatku berpijak
(hal 82). (Personfikasi)
39. “Demi Allah! Ke atas biarlah saya tidak berpucuk, ke
bawah tak berurat, kalau sekiranya engkau ku sia-siakan” (hal 83). (Ironi)
30. Remuk, bagai kaca
terhempas ke batu rasa sakit Poniem (hal 88). (Simile)
31. Meskipun telah jemunya kepada isteri yang tua dan
bagaimanapun tertempuh hatinya kepada isteri yang muda, namu giliran pulang
dijaganya pula sebaik-baiknya, jamnya ditentukannya, kesalnya tidak
diperhatikannya, maknnya dienakkan pula, walaupun pahit
bagai rimbang (hal 97). (Simile)
32. Tapi lama-lama tentu
akan penuh juga ibarat orang menggantang. (hal 106). (Simile)
33. Adapun Mariathun, dia sekampung sehalaman sekota senegeri.
(hlm 117). (Asindeton)
34. Perempuan adalah lautan. (hlm 117)
(Metafora)
(Metafora)
35. Dengan beransur-ansur
Leman telah tertelan oleh Mariathun.
(hlm 117)
(Hiperbol)
(Hiperbol)
36. Ibarat suatu bisul yang telah lama bengkak dan
menanah, sekarang akan kejadianlah letusnya. (hlm 118). (Simile)
37. Dia melihat saja akan
perangai madunya itu dengan benci.
(hlm 118)
(Epitet)
(Epitet)
38. Sebagai kilat cepatnya Leman naik ke atas. (hlm
120)
(Simile)
(Simile)
39. Mata mereka berapi-api
melihat Poniem. (hlm 121)
(Hiperbol)
(Hiperbol)
40. Kalau seorang hanya
menumpahkan hartanya buat anak dan isterinya, dia dnamakan “Batu Terbenam ke Bancah” tidak
memikirkan dunsanak dan kemenakan sendiri, hanya memperkaya “orang Lain” saja.
(hlm 128). (Simile)
41. Sekarang yang menyewa
toko itu sendiri tidak sanggup lagi, tentu kawan itu menerima dengan jari sepuluh. (hlm 135). (Metafora)
42. Dunia itu sebagai roda pedati, sekali kita turun sekali
kita naik; mendapat janganlah terlalu harap, rugi janganlah terlalu cemas. (hlm
136). (Simile)
43. Muka mereka telah
hangus kena panas. (hlm 137)
(Hiperbol)
(Hiperbol)
44. Di tempat yang agak
jauh kelihatan Tuan besar dengan
celana pendek dan topi lebar, tengah memeintah dengan gagahnya kepada kuli-kuli
itu. (hlm 137). (Epitet)
45. Tarikan nafas yang
panjang itu adalah laksana palu yang
dibunyikan oleh ketua satu kerapatan, menjadi alamat bahwa pembicaraan
telah putus, tidak dapat disambung lagi. (hlm 139). (Simile)
46. Suyono sudah pernah
menyaksikan keadaan di dalam rumahtangganya dengan anak dan isterinya dari jong turun ke sampan rasanya
nasibnya. (hlm 177). (Simile)
47. Dicubanya peruntungan ibarat orang berjudi, sekali menang,
sekali kalah juga.
(hlm 178). (Simile)
(hlm 178). (Simile)
Jadi dari keseluruhan gaya bahasa diatas dapat
disimpulkan bahwa gaya sebagai rangkaian ciri Pribadi karena nama pengarang
atau penulisnya sudah ditentukan didalam sebuah karya tulisnya.
Wednesday, 13 August 2014
Rumah Gadang
| Rumah Gadang suku patopang di Silokek |
Nagari Silokek masih memiliki identias utama sebagai orang minangkabau, yaitu memiliki rumah gadang suku. Di tempat ini terdapat empat suku yang masing-masingnya memiliki rumah gadangnya sendiri, dan salah satunya adalah seperti yang terlihat pada gambar di atas, rumah gadang suku patopang.
Pagi hari di Silokek
Bahasa Campur Kode di Kampung Pondok, Padang
BAHASA CAMPUR KODE
DI KELURAHAN KAMPUNG PONDOK,
DI KELURAHAN KAMPUNG PONDOK,
KECAMATAN PADANG BARAT
Padli Ramadhan
Universitas Andalas
Universitas Andalas
ABSTRAK
Campur
kode merupakan terjadinya pencampuran dua bahasa atau lebih dalam suatu
peristiwa tutur. Kemampuan menguasai bahasa dari penutur dan petutur sangat
penting di dalam peristiwa ini. Salah satu contoh daerah di Indonesia yang
masyarakatnya merupakan masyarakat bilingual (dwibahasa) adalah pada kelurahan
Kampung Pondok, kecamatan Padang Barat. Karena adanya interaksi antar etnik
Minang dengan etnik Cina yang sudah lama, maka keganjilan berbahasa dalam
setiap peristiwa tutur mengakibatkan adanya campur kode, inilah yang penulis ingin paparkan dan menjadi sumber
masalah dalam penelitian ini.
Penelitian
ini bertujuan memaparkan mengenai bahasa campur kode dan faktor penentunya yang
ada di kelurahan Kampung Pondok, kecamatan Padang Barat.
Penelitian deskriptif ini
menggunakan pendekatan Sosiolinguistik dan merupakan sebuah penelitian lapangan.
Metode simak bebas libat cakap dan wawancara merupakan metode yang digunakan
dalam pengumpulan data. Teknik catat digunakan juga dalam proses pengumpulan
data. Data dalam penelitian ini berupa tuturan masyarakat di kelurahan Kampung Pondok, kecamatan Padang
Barat yang di dalamnya mengandung unsur campur kode.
Campur
kode bahasa pada penelitian ini dilihat dalam dua faktor, yaitu faktor lingual
dan factor non-lingual. Campur kode yang terjadi di kelurahan Kampung Pondok,
kecamatan Padang Barat terdiri dari; Campur kode pada Bahasa Cina (BC) di dalam
Bahasa Indonesia (BI), campur kode Bahasa Cina di dalam Bahasa Minang (BM),
serta campur kode Bahasa Cina (BC) dan Bahasa Minang (BM) di dalam Bahasa
Indonesia (BI).
Kata kunci: sosiolinguistik, campur kode, etnis cina, minangkabau.
1.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penggunaan bahasa Indonesia sebagai
bahasa pengantar dalam berkomunikasi memegang peranan yang penting dalam
berbagai ranah, seperti pemerintahan, keluarga, agama, etnik, maupun
pendidikan. Dalam ranah etnik bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa umum
yang menyatukan berbagai macam etnik yang ada di negri ini. Sebagai penghubung
komunikasi yang baik, bahasa Indonesia melebur di dalam keseharian masyakarat
etnik manapun.
Penggunaan bahasa Indonesia sebagai
bahasa penghubung dalam komunikasi antar
etnik itu memang perlu dipertahankan. Namun ada beberapa hal yang harus kita
ingat bahwa berdasarkan aspek linguistik, “masyarakat Indonesia merupakan
masyarakat yang bilingual (dwibahasa) yang menguasai lebih dari satu bahasa,
yaitu bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing” (Nababan, 1992:27).
Masyarakat yang dwibahasa akan mengalami kontak bahasa sehingga melahirkan
campur kode.
Campur
kode merupakan terjadinya pencampuran dua bahasa atau lebih dalam suatu
peristiwa tutur. Kemampuan berbahasa dari penutur dan petutur sangat penting di
dalam peristiwa ini. Salah satu contoh daerah di Indonesia yang masyarakatnya
merupakan masyarakat bilingual (dwibahasa) adalah pada kelurahan Kampung
Pondok, kecamatan Padang Barat. Daerah ini merupakan daerah pemukiman yang dihuni
oleh para keturunan etnis Cina yang telah membaur dengan masyarakat Minangkabau
sejak lama. Disebabkan oleh adanya interaksi antar etnik Minang dengan etnik Cina
yang sudah lama, maka keganjilan berbahasa dalam setiap peristiwa tutur
mengakibatkan adanya campur kode, inilah yang peneliti ingin paparkan dan menjadi sumber
masalah dalam penelitian ini.
1.2 Tujuan
Penelitian
ini bertujuan memaparkan mengenai bahasa campur kode dan faktor penentunya yang
ada di kelurahan Kampung Pondok, kecamatan Padang Barat.
1. 3 Metode dan teknik
Metode
dan teknik merupakan konsep yang berbeda, tetapi mempunyai hubungan yang sangat
erat dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Metode dan teknik
adalah cara yang dipakai dalam melakukan suatu upaya. Metode adalah cara yang
harus dilaksanakan, dan teknik adalah cara melaksanakan metode tersebut (Sudaryanto,
1993: 9).
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi/ simak. Peneliti
melakukan observasi langsung ke daerah Kampung Pondok di kota Padang. Metode
Simak bebas libat cakap digunakan di dalam observasi penelitian. Dilanjutkan
dengan teknik wawancara di dalam pengumpulan data yang lebih mendalam. Dengan
wawancara banyak informasi didapatkan dari narasumber/ informan. Data yang
diperoleh dikumpulkan dengan teknik catat yang langsung dilakukan pada saat
sesi wawancara. Pada pembahasan data disajikan dalam bentuk peristiwa tutur.
2. PEMBAHASAN
2.1 Campur Kode
Ketika
suatu kelompok masyarakat memiliki bahasa daerah tersendiri, maka bahasa itu
akan berinteraksi dengan bahasa yang lain. Dari interaksi-interaksi yang
terjadi itu akan menghasilkan sebuah bahasa campur kode. Seorang penutur
misalnya, yang dalam berbahasa Indonesia banyak menyelipkan serpihan-serpihan
bahasa daerahnya, bisa dikatakan telah melakukan campur kode. Akibatnya, akan
muncul ragam bahasa Indonesia yang keminang-minangan (kalau bahasa daerahnya
adalah bahasa Minang) atau bahasa Indonesia yang kejawa-jawaan (kalau bahasa
daerahnya adalah bahasa Jawa). Jadi di dalam campur kode ada sebuah kode utama
atau kode dasar yang digunakan dan memiliki fungsi dan keotonomiannya,
sedangkan kode-kode lain yang terlibat dalam peristiwa tutur itu hanyalah
berupa serpihan (pieces) saja, tanpa fungsi atau keotonomian sebagai sebuah
kode (Chaer: 1995:151) .
Sumarsono (2002:202-203) menyatakan
bahwa “campur kode terjadi apabila penutur menyelipkan unsur-unsur bahasa lain
ketika sedang memakai bahasa tertentu”. Misalnya, ketika berbahasa Indonesia,
seseorang memasukan unsur bahasa Bali.
Nababan (1992) memaparkan pengertian
tentang campur kode sebagai pencampuran dua bahasa atau lebih dalam suatu
tindak bahasa tanpa ada situasi yang menuntut pencampuran itu. Ditambahkan
pula, percampuran bahasa tersebut disebabkan oleh kesantaian atau kebiasaan
yang dimiliki oleh pembicara dan biasanya terjadi dalam situasi informal.
Sejalan dengan pendapat Nababan,
Jendra (1991) menyatakan bahwa campur kode tidak dituntut oleh situasi dan
konteks pembicaraan tetapi lebih ditentukan oleh pokok pembicaraan pada saat
itu. Campur kode disebabkan oleh kesantaian dan kebiasaan pemakai bahasa dan
pada umumnya terjadi dalam situasi informal.
Selanjutnya dikatakan bahwa campur
kode terjadi di bawah tataran klausa dan unsur sisipannya telah menyatu dengan
bahasa yang disisipi. Selanjutnya Jendra (1991:123) menambahkan bahwa
“seseorang yang bercampur kode mempunyai latar belakang tertentu, yaitu adanya
kontak bahasa dan saling ketergantungan bahasa ( Language dependency), serta ada unsur bahasa lain dalam suatu
bahasa namun, unsur bahasa lain mempunyai funsi dan peranan yang berbeda”.
Dari beberapa pendapat dan pandangan
para ahli mengenai campur kode dapat disimpulkan bahwa campur kode merupakan
peristiwa penggunaan bahasa atau unsur bahasa lain ke dalam suatu bahasa atau
peristiwa pencampuran bahasa. Peristiwa campur kode dapat dilihat dalam
kehidupan sehari-hari pada interaksi sosial masyarakat kelurahan Kampung Pondok,
kecamatan Padang Barat. Terjadinya campur kode biasanya disebabkan oleh tidak
adanya padanan kata dalam bahasa yang digunakan untuk menyatakan suatu maksud.
2.2 Campur Kode di Kampung Pondok
Bahasa
campur kode di Kampung Pondok, kecamatan Padang Barat sudah terjadi pada sejak
lama di kalangan masyarakatnya. Fenomena ini terjadi pada peristiwa tutur di
rumah maupun peristiwa tutur di luar rumah . Tidak ada yang mengetahui secara
pasti sejak kapan mereka mulai terbiasa dengan bahasa yang bercampur tersebut.
Bagi
masyarakat di daerah ini, mereka tidak menyadari bahwa tindak tutur mereka
merupakan peristiwa campur kode. Mereka hanya tahu bahwa terdapat pencampuran
dalam berbahasa sehari-hari merekadan itu merupakan hal yang biasa. Bentuk
bahasa campur kode yang terjadi di Kampung Pondok, kecamatan Padang Barat dapa
dilihat melalui peristiwa tutur (1) dan peristiwa tutur (2) pada pembahasan
selanjutnya.
2.3 Faktor Situasional
Merujuk
kepada apa yang dikemukakan oleh Fishman dalam Suwito (1982: 2-3) bahwa dalam
berkomunikasi, terdapat faktor-faktor situasional yang mempengaruhi pemakaian
bahasa, yaitu siapa yang berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, di mana,
dan mengenai masalah apa atau dirumuskan dengan “Who speaks what language to whom and when”.
Siapa
yang berbicara dapat diartikan sebagai penutur yang berasal dari golongan mana,
kedudukannya dalam masyarakat, pendidikan, umur, dan jenis kelamin. Semua ini
sangat mempengaruhi pemilihan kata di dalam berkomunikasi. Kepada siapa
berbicara juga ikut mempengaruhi penutur dalam memilih kata-kata yang sesuai
dengan situasinya. Apabila berbicara dengan orang yang seprofesi dengan
penutur, maka ada kemungkinan mereka akan berbicara dengan menggunakan
istilah-istilah yang berlaku dalam bidang tersebut. Kapan berbicara dapat
dipahami sebagai situasi yang bagaimana komunikasi itu berlangsung, misalnya
situasi santai dan situasi resmi akan mempengaruhi pemilihan kata.
Mengenai
masalah dapat diartikan sebagai topik pembicaraan. Menurut Pateda (1987: 23),
topik pembicaraan mencakup fokus pembicaraan, kualitas pembicaraan formal atau
informal, dan pembicaraan yang intim. Bila topik pembicaraan masalah
kebahasaan, maka dengan sendirinya istilah-istilah kebahasaan akan muncul tanpa
khawatir lawan bicara tidak memahami apa yang dibicarakan. Setting (latar)
merupakan tempat berlangsungnya pembicaraan, seperti yang dikemukakan oleh
Suwito (1982: 29) bahwa setting adalah tempat bicara dan suasana bicara.
Dalam
percakapan masyarakat Kampung Pondok ditemukan faktor situasional, yaitu:.
(Peristiwa
tutur 1)
Tiffany:“Chen..”.
“Chen..”.
“Chen..”.
Chen: “Apo
dek lu?”
“Ada apa?”
“Ada apa?”
Tiffany: “Ado
lu buek tugas? Gua belum buek gi do, boleh gua pinjam?”
“Ada kamu buat tugas? Aku belum buat lagi nih, boleh aku pinjam?”
“Ada kamu buat tugas? Aku belum buat lagi nih, boleh aku pinjam?”
Chen:
“
gua belum lo siap gi do. Ho na, awak pinjam se tugas
anak-anak tu”.
“ aku belum siap juga lagi. Ya sudah, kita pinjam saja tugas anak-anak itu”.
“ aku belum siap juga lagi. Ya sudah, kita pinjam saja tugas anak-anak itu”.
Tiffany:“Masalahnya, dorang tu belum siap juga gi do”.
“Masalahnya, mereka itu belum siap juga lagi”.
“Masalahnya, mereka itu belum siap juga lagi”.
Dalam
wacana percakapan di atas terdapat campur kode Bahasa Cina (BC) dan Bahasa
Minang (BM) dalam Bahasa Indonesia (BI). Hal itu terlihat dari percakapan dua
anak remaja di atas yang menggunakan kata BC, yaitu Ho na, ‘Ya sudah’ dan kata BM, yaitu awak
se’kita saja’ diantara BI tidak baku pada kata-kata gua belum lo siap gi do, ‘aku belum siap
juga lagi’ dan pinjam tugas anak-anak tu, ‘pinjam tugas anak-anak itu’. Campur
kode BI dalam BM terlihat pada BI tidak baku kata lu’kamu’ diantara BM pada kata
Apo dek ’ada apa’ dan BI tugas diantara BM pada kata ado
buek ‘ada buat’. Kemudian
campur kode BC dalam BI tidak baku dapat terlihat pada kata dorang
’mereka’ diantara Masalahnya, tu belum
siap juga gi do’masalahnya itu belum siap juga lagi’.
Bahasa
campur kode yang terjadi dalam percakapan remaja seperti contoh di atas,
terjadi pada saat berada di kantin sekolah. Sebagaimana halnya kantin, maka di
sana akan tercipta suasana yang santai untuk berbincang dengan teman-teman
sekolah. Chen dan Tiffany berbincang berdua mengenai tugas sekolah mereka,
namun dengan suasana yang santai membuat mereka leluasa berbincang dan
membiarkan terjadi keganjilan berupa campur kode dalam struktur bahasa
tuturnya..
2.4 Faktor Lingual
Faktor
lingual disebut juga dengan faktor bahasa. Dalam proses interaksi sosial masyarakat media yang digunakan dalam berkomunikasi
adalah bahasa lisan. Penutur dalam pemakaian bahasanya sering mencampurkan
bahasanya dengan bahasa lain sehingga terjadi campur kode.
Tataran
Kata
Campur
kode secara lingual meliputi beberapa tataran yang berbeda, seperti tataran
kata, frase, klausa, dan kalimat.
Berdasarkan data yang dipilah, ditemukan adanya campur kode antara
bahasa Minang dengan bahasa Indonesia atau sebaliknya. Dalam percakapan
masyarakat ditemukan pada tataran kata, yaitu:
(Peristiwa
tutur 2)
Paman: ”koh”.
“bang”.
“bang”.
Ponakan: “iya, apa om?”
“iya apa om?”.
“iya apa om?”.
Paman: “Pegi ke warung beli gula separampek, telok lima, tepung setengah kilo!”
“Pergi ke warung beli gula seperempat, telur lima, tepung setengah kilo!”.
“Pergi ke warung beli gula seperempat, telur lima, tepung setengah kilo!”.
Ponakan: “Duiknya
lebih buat gua ya?”.
“duitnya lebih untuk aku ya”.
“duitnya lebih untuk aku ya”.
Paman: “chin chai, cepak lah sana”.
“terserah saja, cepatlah sana”.
“terserah saja, cepatlah sana”.
Dalam
wacana percakapan di atas, terdapat campur kode BC pada kata-kata koh’bang’,
pegi
‘pergi’, telok ‘telur’, duiknya ‘duitnya’, cepak ‘cepat’, dan chin chai ‘terserah
saja’. Kemudian BM pada kata BI separampek ’seperempat’ diantara BI
pada kata iya apa om, ke warung beli
gula, tepung setengah kilo, lebih buat aku ya.
Campur
kode pada BC yang ditunjukkan oleh kata chin chai ‘terserah saja’, merupakan
istilah dalam BC yang digunakan dalam tataran kata si Paman kepada Ponakan.
2.5 Faktor Non-Lingual
Faktor
non lingual yang dibahas tentu saja faktor yang berada di luar bahasa, seperti
siapa yang berbicara, bila dan di mana, serta topik yang sedang dibicarakan.
Faktor
non lingual disebut juga dengan faktor non bahasa atau disebut juga dengan faktor
penutur. Penutur
atau pembicara terkadang sengaja bercampur kode terhadap mitra bahasa karena
dia mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Pembicara kadang-kadang melakukan
campur kode antara bahasa yang satu ke bahasa yang lain karena kebiasaan dan
kesantaian situasi percakapan
2.5.1
Siapa yang Berbicara
Campur kode yang disadari oleh penutur biasanya terjadi
karena penutur mempunyai
maksud-maksud tertentu. Dalam bahasa para remaja misalnya, campur kode ke Bahasa Cinabermaksud untuk mengakrabi atau untuk mengungkapkan gagasan yang
ditujukan pada diri sendiri, serta untuk menyampaikan maksud dan tujuan. Hal ini dipengaruhi oleh watak remaja yang
cenderung tidak mau berlama-lama dalam menyampaikan maksudnya, mereka lebih
santai dalam mengatakan apa yang ingin dikatakan.
Pada dasarnya bahasa campur kode yang dipergunakan oleh remaja di kelurahan Kampung Pondok, kecamatan
Padang Barat adalah dikarenakan
faktor sosial, pendidikan, bahasa, dan sikap dari remaja itu sendiri.
Tidak setiap anak remaja memiliki sikap yang sama dalam berbahasa. Dalam hal
ini adalah remaja yang mana mereka setiap hari berinteraksi dengan anak-anak
remaja lain dengan latarbelakang yang berbeda-beda.
Pada campur kode Bahasa
Cina antara paman dengan keponakannya dapat dilihat dari segi penuturnya.
Seorang paman yang sudah dewasa dan cukup umur menggunakan istilah chin
chai ‘terserah saja’ kepada ponakannya yang berbahasa Indonesia. Dalam
hal ini berarti seorang paman lebih leluasa dalam berbahasa dibandingkan
ponakannya dilihat dari cara dia menyebutkan istilah dalam Bahasa Cina.
Karena usia dan status
social di dalam keluarga lebih tinggi, maka si Paman dalam berbahasa kepada
Ponakan tanpa canggung. Tanpa memikirkan struktur bahasa yang digunakan, dan
keganjilan dalam penuturan bahasa tidak terlalu diperhatikan, rasa tanpa
canggung itu membuat hadir bahasa campur
kode.
2.5.2
Kapan dan Dimana
Karena
peristiwa campur kode dapat dilihat dari berbagai faktor, maka penting rasanya
untuk melihat dari aspek kapan dan dimana campur kode itu terjadi. Seorang
penutur tidak selamanya menggunakan bahasa campur kode dalam setiap interaksi
sosialnya. Waktu dan tempat merupakan situasi yang sangat penting dalam memperhatikan
peristiwa campur kode.
Bahasa
campur kode yang terjadi dalam percakapan remaja seperti contoh di atas,
terjadi pada saat berada di kantin sekolah. Sebagaimana halnya kantin, maka di
sana akan tercipta suasana yang santai untuk berbincang dengan teman-teman
sekolah. Chen dan Tiffany berbincang berdua mengenai tugas sekolah mereka,
namun dengan suasana yang santai.
Peran
waktu dan tempat di dalam terjadinya peristiwa campur kode memang tidak terlalu
utama, karena seperti yang telah disebutkan bahwa dalam peristiwa campur kode
terdapat beberapa faktor penyebabnya. Namun, dalam waktu dan tempat tertentu
yang mampu menghadirkan suasana santai dan tidak formal biasanya berpeluang
besar untuk terjadinya peristiwa campur kode.
2.5.3
Topik Pembicaraan
Topik
pembicaraan dalam setiap peristiwa campur kode tentunya berbeda-beda. Tidak
bisa ditentukan pada topik apa saja terdapat bahasa campur kode, hal ini sekali
lagi mengisyaratkan bahwa campur kode tidak tergantung pada suatu faktor
tertentu.
Dua
contoh percakapan yang ditampilkan di atas memiliki topik yang berbeda dan
bahasa campur kode yang terjadi tidak mengisyaratkan kepada topik-topik
tertentu. Namun topik pembicaraan di sini dapat dilihat sebagai wadah bagi si
penutur untuk menyampaikan emosi atau sikapnya dalam bentuk bahasa campur kode.
3. PENUTUP
Kesimpulan
Faktor-faktor penentu
campur kode terdiri dari faktor lingual dan faktor non lingual. Faktor lingual
merupakan faktor bahasa sedangkan faktor non lingual merupakan faktor non
bahasa yang mempengaruhi peristiwa campur kode di kelurahan Kampung Pondok,
kecamatan Padang Barat.
Bahasa campur kode yang
terjadi di kelurahan Kampung Pondok, kecamatan Padang Barat terdiri dari:
1) Campur
kode pada Bahasa Cina di dalam Bahasa Indonesia,
2) Campur
kode Bahasa Cina di dalam Bahasa Minang, serta
3) Campur
kode Bahasa Cina dan Bahasa Minang di dalam Bahasa Indonesia.
Saran
Sesungguhnya
masih terdapat banyak kekurangan dalam penelitian ini. Semoga dari penelitian
yang singkat ini dapat menjadi awal bagi penulis sendiri khususnya dan yang
lain pada umumnya untuk melanjutkan penelitian di bidang lingustik, khususnya
tentang campur kode.
DAFTAR
PUSTAKA
Chaer, Abdul. 1995. Sosiolinguistik:
Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Jendra. 1991. Dasar-dasar
Sosiolinguistik. Denpasar: Ikayana.
Nababan. 1992. Sosiolinguistik:
Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Pateda, Mansur. 1987. Sosiolinguistik.
Bandung: Angkasa.
Sudaryanto.
1993. Metode Linguistik; Bagian Kedua (Metode dan Aneka Teknik
Pengumpulan Data). Yogyakarta: Gadjah Mada University.
Pengumpulan Data). Yogyakarta: Gadjah Mada University.
Sumarsono. 2002. Sosiolinguistik.
Yogyakarta: Sabda.
Suwito. 1983. Sosiolinguistik
Teori dan Problema. Surakarta: Hendry Offset.
Subscribe to:
Posts (Atom)

