Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Wednesday, 12 August 2015

Sejarah Asal Usul Kejadian Suku Batu Hampar 40 Di Negeri Sembilan

Monarchs of Negri Sembilan
Di zaman pemerintahan Yam Tuan Radin, dan telah mangkat pada tahun 186. Kekecuhan perebutan kuasa telah berlaku selepas kemangkatan baginda. Pembesar- pembesar Istana Sri Menati telah bersetuju melantik Yam Tuan Radin Menjadi Yam Tuan Sri Menanti.

Yam Tuan Imam telah mangkat pada tahun 1869. Pertelingkahan perebutan kuasa tidak dapat dielakkan dan kelihatan pada masa itu Persekutuan Negeri-Negeri membentuk Negeri Sembilan seolah-olah dibubarkan dan berpecah belah.

Di Sri Menanti; pembesar-pembesar Istana tidak bersetuju melantik Tengku Ahmad Tunggal iaitu Putera Yam Tuan Imam sebagai pengganti baginda. Kerana kelakuan Tengku Ahmad Tunggal dikatakan tidak menyenangkan. Tengku Ahmad Tunggal telah melarikan diri ke Sungai Ujong menemui Dato' Kelana Syed Abd Rahman dan berlakulah krisis perebutan tahta Negeri Sembilan.

Bagaimanapun ketika krisis sedang memuncak, pembesar-pembesar Istana telah melantik Tengku Ampuan Intan Puteri Tengku Alang Hussain iaitu cucu Yam Tuan Itam memangku Tahta Yam Tuan Sri Menanti selama 3 tahun. Bermula pada tahun masihi 1869 sehingga tahun masihi 1872.

Dalam sepanjang pemerintahan baginda, baginda telah menempatkan saudara perempuannya Tengku Cindai (Sajar) bersama dengan rombongannya dalam 7 buah kereta lembu menuju ke sebelah timur untuk membuka perkampungan yang baru.

Baginda Tengku Ampuan Intan telah menganugerahkan tanah seluas 40 jangka untuk ditebang tebas menjadikan perkampungan. Baginda juga telah berkenan melantik seorang Ketua Adat iaitu sebagai Dato' Lembaga yang bergelar Dato' Raja Panglima dan sebagai Apit Lepang Orang Enam Istana Besar Sri Menanti serta dibantu oleh seorang Orang Besar Waris yang bergelar Dato' Satey Maharaja dan seorang Buapak bergelar Dato' Sati Maharaja. Baginda juga telah menamakan kumpulan tersebut dengan Suku Batu Hampar Empat Puluh Kampung Pelangai, Kuala pilah.

BACA JUGA ARTIKEL SEJARAH MINANGKABAU BERIKUT:

Sejarah Silek Minangkabau
Sejarah Urang Kubu
Sejarah Gempa di Padang Panjang 7,6 SR

Monday, 8 September 2014

Imam Masjidil Haram dari Minang

syaikh ahmad khatib al-minangkabawi rahimahullah
"Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Rahimahullah,
Putra Minang yang jadi Imam besar Mekah (Masjidil Haram)"

Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Rahimahullah adalah ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi'i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. 
Dia memiliki peranan penting di Mekkah al Mukarramah dan di sana menjadi guru para ulama Indonesia. Beliau merupakan Imam Besar Masjidil Haram pertama dari orang non Arab.

Nama lengkapnya adalah Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi, lahir di Koto Tuo - Balai Gurah, IV Angkek Candung, Agam, Sumatera Barat, pada hari Senin 6 Dzulhijjah 1276 H (1860 Masehi) dan wafat di Mekkah hari Senin 8 Jumadil Awal 1334 H (1916 M).

Awal berada di Mekkah, ia berguru dengan beberapa ulama terkemuka di sana seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiy.

Banyak sekali murid Syaikh Khatib yang diajarkan fiqih Syafi'i. Kelak di kemudian hari mereka menjadi ulama-ulama besar di Indonesia, seperti Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) ayah dari Buya Hamka; Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Bukittinggi; Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli, Candung, Bukittinggi, Syaikh Muhammad Jamil Jaho Padang Panjang, Syaikh Abbas Qadhi Ladang Lawas Bukittinggi, Syaikh Abbas Abdullah Padang Japang Suliki, Syaikh Khatib Ali Padang, Syaikh Ibrahim Musa Parabek, Syaikh Mustafa Husein, Purba Baru, Mandailing, dan Syaikh Hasan Maksum, Medan. Tak ketinggalan pula K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Ahmad Dahlan, dua ulama yang masing-masing mendirikan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, merupakan murid dari Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah.

Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah adalah tiang tengah dari mazhab Syafi'i dalam dunia Islam pada permulaan abad ke XX. Ia juga dikenal sebagai ulama yang sangat peduli terhadap pencerdasan umat. imam Masjidil Haram ini adalah ilmuan yang menguasai ilmu fiqih, sejarah, aljabar, ilmu falak, ilmu hitung, dan ilmu ukur (geometri).


Tuesday, 19 August 2014

Suku Kubu atau Urang Kubu

Sekelompok orang Kubu pada tahun 1930-an
Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di provinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang.

Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam menyebutkan mereka berasal dari Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Mereka diperkirakan merupakan keturunan prajurit-prajurit Minangkabau yang bermaksud memperluas daerah ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem matrilineal.

Secara garis besar di Jambi mereka hidup di 3 wilayah ekologis yang berbeda, yaitu Orang Kubu yang di utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional Bukit 30), Taman Nasional Bukit 12, dan wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatra). Mereka hidup secara nomaden dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu, walaupun banyak dari mereka sekarang telah memiliki lahan karet dan pertanian lainnya.

Kehidupan mereka sangat mengenaskan seiring dengan hilangnya sumber daya hutan yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan, dan proses-proses marginalisasi yang dilakukan oleh pemerintah dan suku bangsa dominan (Orang Melayu) yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan.

Mayoritas suku kubu menganut kepercayaan animisme, tetapi ada juga beberapa puluh keluarga suku kubu yang pindah ke agama Islam.

Indonesia Merdeka, Hatta baru Menikah

Repro "Muhammad Hatta, Hati Nurani Bangsa", karya Deliar Noer
Mohammad Hatta berjanji baru akan menikah setelah Indonesia merdeka.

KETIKA menjadi mahasiswa di Belanda, Mohammad Hatta selalu serius belajar. Sekalipun banyak mahasiswi mengaguminya, dia tak menunjukkan ketertarikan. Penasaran, kawan-kawannya menyuruh seorang mahasiswa Polandia yang cantik untuk menggodanya tapi tak berhasil.

Halida Hatta, putri bungsu Hatta, ini karena ayahnya ingin menyelesaikan studi dengan baik sebagai modal dasar bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. “Bung Hatta sadar apa yang sedang dia prioritaskan,” ujar Halida.

Dan selama Indonesia belum merdeka, Hatta berjanji tak akan menikah.

Namun, menurut Mavis Rose, Hatta sempat menaklukkan hati gadis cantik bernama Anni, anak Tengku Nurdin, seorang pengalihbahasa pemerintahan Aceh. Perekatnya bukan cinta romantis tapi semangat nasionalis –Anni adalah aktivis perempuan, pernah menjadi prasaran dalam Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung. Bahkan keduanya sudah bertunangan. “Namun romansa ini tak berlanjut ke jenjang pernikahan,” tulis Mavis Rose dalam Indonesia Free: A Political Biography of Mohammad Hatta..

Anni kemudian menikah dengan Abdul Rachim, kawan dekat Bung Karno, dan memiliki dua putri: Rachmi dan Titi.

Setelah Indonesia merdeka, Hatta akhirnya menentukan gadis pilihannya. “Waktu saya bertanya kepada Hatta, gadis mana yang dia pilih, jawabnya: ‘Gadis yang kita jumpai waktu kita berkunjung ke Instituut Pasteur, yang duduk di kamar sana, yang begini, yang begitu, tapi saya belum tahu namanya,” ujar Sukarno kepada R. Soeharto, dikutip Saksi Sejarah. “Setelah saya selidiki ternyata gadis pilihan Hatta itu Rahmi, putri keluarga Rachim.”

Di tengah malam, ditemani R. Soeharto, Sukarno mendatangi rumah keluarga Rachim dan melamar Rahmi untuk Hatta.

Pada 18 November 1945, Hatta menikahi Rahmi di sebuah villa di Megamendung, Bogor. Sebagai mas kawin, Hatta memberikan buku yang ditulisnya saat dibuang di Digul pada 1934, Alam Pikiran Yunani.

“Apakah Hatta melihat sifat Rahmi Rachim yang sebelumnya begitu dia kagumi pada diri ibunya, dia tidak menyebutkan,” tulis Mavis. “Bahkan, dalam memoar Hatta pernikahannya hanya ditandai dengan sebuah foto pasangan pengantin.”

Halida menyebut Mavis Rose salah kaprah. Menurutnya, Anni bertemu kali pertama dengan Hatta pada 1945 ketika Sukarno datang melamar Rahmi untuk Hatta. “Karena Bung Hatta dan nenek saya (mertua Hatta) beda usia cuma sembilan hari, maka keluarlah cerita seperti itu,” kata Halida.

Sebagai pasangan, Hatta tentu saja kerap menunjukkan sisi romantis. Ketika istrinya hendak melahirkan anak pertama, Hatta masuk ke kamar bersalin dengan membawa sandwich buatannya. Hatta juga selalu memberikan tempat di dalam mobil yang bebas dari terpaan sinar matahari kepada istrinya ketika bepergian. Namun, di depan anak-anaknya, “mereka tak memperlihatkan bahasa tubuh yang romantis,” kata Halida.

Hatta juga punya perhatian terhadap fisik istrinya. Tak suka istrinya menjadi gemuk, dia pernah meminta Raharti Subijakto, adik Rahmi, untuk mengingatkan kakaknya. “Dalam pemikiran Bung Hatta,” kata Halida, “pembicaraan akrab di antara dua orang saudara perempuan akan melunakkan sensitivitas isu kegemukan.”

Selama mengarungi biduk rumah tangga, hidup mereka aman-tenteram dengan dikaruniai tiga anak perempuan.

Meski terpaut usia 24 tahun, Rahmi bahagia dan setia mendampingi Hatta. “Setiap kesempatan yang kami jalani bersama terasa indah dan berharga, seperti serangkaian permata yang berharga,” kata Rahmi